Rabu, 23 April 2014

Bloody snow : silent snow

sebenarnya cerita ini sudah tayang di FB saya sekian tahun lalu.. tapi saya coba deh edit2 dikit... biar greget :3 


di daerah terpencil di negara swiss bagian utara, terjadi kejadian tragis yang bermotif sangat tidak jelas. sebuah pembunuhan yang terjadi tanpa saksi mata. terjadi di malam gelap tertutup salju yang dingin. diatas putihnya salju yang membekukan, titik-titik darah menetes dengan pedihnya. yang sekejap dihisap oleh tumpukan salju yang beku. terbaring, saat itu Gadis kecil bertubuh kecil, kurus dan pucat. membeku, tatapan matanya yang kosong dan darah yang menghiasi ujung kepalanya. dia hanya terbaring, rasa dingin yang tadinya menyusup diam-diam ke tubuhnya yang hangat, kini berhasil menguasai seluruh bagian tubuhnya tanpa adanya kehangatan sedikitpun. salju yang bertumpuk diam-diam mencoba menyelimutinya dari gelapnya langit malam. seperti seorang ibu yang mencoba menyelimuti anaknya yang sedang tidur. tapi, tidak untuk kali ini. dia bukan hanya tidur....

sebelumnya, beberapa saat yang lalu, harusnya dia tertawa. tapi, waktu berkata lain.  waktu merenggut tawanya, matahari esoknya, masa depannya.



dia, Michelle. seorang gadis siswa sekolah menengah pertama. harusnya, dia diundang ke pesta menjelang natal yang diadakan oleh teman sekelasnya di villa orangtuanya di dekat dirinya harus terbaring beberapa saat lagi. Michelle berjalan dengan boots nya yang tenggelam sepuluh sentimeter ke dalam tumpukan salju. dia menggunakan syal hitam yang melilit lehernya untuk menjaga dirinya tetap hangat.
dalam kehangatan kecil ini, dia berjalan menuju villa tersebut. jalanan yang gelap menjadi terang karena lentera yang dia tegakkan dengan tangan kirinya. akhirnya, setelah sekitar sepuluh menit dia tiba, yang dia lihat hanya villa gelap tak berpenghuni. dia duduk di tangga depan villa itu.

mungkin aku datang terlalu cepat....

dia terduduk. meletakkan lenteranya di sampingnya menjaganya agar tetap hangat dari salju yang dapat membekukan tubuhmu kapan saja. Michelle duduk sambil meniupkan udara hangat dari mulutnya ke kedua telapak angannya yang terbuka. sekitae sepuluh sampai limabelas menit dia menunggu. tak seorangpun datang. dia memutuskan untuk pulang. sampai akhirnya dia melihat bayang bayang tiga orang yang dikenalnya. sekejap, dia mengambil lentera di sampingnya, sambil menegakkannya lurus kedepan tiga bayangan itu.

"Nichole ! syukurlah, aku kira kalian takkan datang." dia tersenyum pada ketiga orang yang wajahnya sudah nampak jelas karena lenteranya.

"Hei, kemana semua orang ? disini kan acaranya ?" Michelle menanyakan ketiga orang gadis tadi.

"Memang.. tempatnya disini.. tapi bukan untuk pesta sebelum natal..." Nichole berbisik sambil menodongkan sebuah pistol ke arah Michelle. Tanpa ragu0ragu lagi, Nichole langsung menarik pelatuknya. dengan jarak setengah meter itu, anak kecil pun bisa menembak dengan tepat.

DUARRR !!!! 

Salju masih turun. angin masih berhembus.. namun tidak untuk nafas Michelle. dia terjatuh bersimbah darah dikepalanya. mata biru nya masih terbuka... dengan tatapan kosong dengan kepala yang menghadap kesamping. darah segar masih mengucur dari kepalanya yang berlubang akibat tembakan dari pistol tadi.  

"dia, berbaring... tapi bukan tidur sayang..."  

kata-kata itu cocok untuk menggambarkan kondisi Michelle sekarang.

"Bukanlah hal yang sulit untuk membunuhmu. yah, karena kau juga bukan orang yang terlalu penting untuk tetap hidup. dan kau juga akan menghalangi jalanku. kali ini, tak akan ada lagi yang bisa menghalangiku. ayo, kita pergi. mungkin sebentar lagi serigala akan menjemputnya."

Nichole berlalu dengan dua gadis lain di belakangnya. kedua gadis tadi hanya diam. mereka sebenarnya shock. tapi, Nichole sudah memberitahu mereka untuk diam. karena akan sangat berbahaya jika suara dua orang gadis terdengar di villa yang bertempat di kaki gunung ini. mereka hanya diam dan mengikuti Nichole dari belakang. sebenarnya mereka tidak ingin ikut, tapi mereka hanya bisa diam agar tidak bernasib sama.

 sosok mereka bertiga tak lagi nampak. menjauh dari jasad Michelle yang terbaring sejak beberapa menit yang lalu. suara Michelle tak lagi terdengar. lentera yang terjatuh tadi mati tertimbun salju.

"kenapa ? apa salahku ? penghalang ? kenapa ? kenapa ?" Michelle tidak terima, masih banyak peranyaan dan dendam yang ia simpan. dia ingin terus di villa ini sampai dia mendapatkan semua jawaban atas semua pertanyaannya.dia menunggu, selalu menunggu di tempat itu.

beberapa hari setelah itu, mayat Michelle yang tertimbun, ditemukan oleh Anjing salah seorang peternak domba didekat situ. polisis mencari siapa pelakunya, tapi tak kunjung menemukan titik terang. sejak saat itu, warga sekitar takut akan villa itu. mendengar suara seorang anak memangis, dan mendengar nyanyian dan pantulan suara kaki di lantai villa tersebut. Michelle kecil ternyata masih menunggu....

sampai suatu hari, tamu yang ditunggu Michelle kecil pun datang.

_to be continued_

Tidak ada komentar:

Posting Komentar