sebenarnya cerita ini sudah tayang di FB saya sekian tahun lalu.. tapi saya coba deh edit2 dikit... biar greget :3
di daerah terpencil di negara swiss bagian utara, terjadi kejadian
tragis yang bermotif sangat tidak jelas. sebuah pembunuhan yang terjadi
tanpa saksi mata. terjadi di malam gelap tertutup salju yang dingin.
diatas putihnya salju yang membekukan, titik-titik darah menetes dengan
pedihnya. yang sekejap dihisap oleh tumpukan salju yang beku. terbaring,
saat itu Gadis kecil bertubuh kecil, kurus dan pucat. membeku, tatapan
matanya yang kosong dan darah yang menghiasi ujung kepalanya. dia hanya
terbaring, rasa dingin yang tadinya menyusup diam-diam ke tubuhnya yang
hangat, kini berhasil menguasai seluruh bagian tubuhnya tanpa adanya
kehangatan sedikitpun. salju yang bertumpuk diam-diam mencoba
menyelimutinya dari gelapnya langit malam. seperti seorang ibu yang
mencoba menyelimuti anaknya yang sedang tidur. tapi, tidak untuk kali
ini. dia bukan hanya tidur....
sebelumnya, beberapa saat yang lalu, harusnya dia tertawa. tapi, waktu
berkata lain. waktu merenggut tawanya, matahari esoknya, masa depannya.
dia, Michelle. seorang gadis siswa sekolah menengah pertama. harusnya,
dia diundang ke pesta menjelang natal yang diadakan oleh teman
sekelasnya di villa orangtuanya di dekat dirinya harus terbaring
beberapa saat lagi. Michelle berjalan dengan boots nya yang tenggelam
sepuluh sentimeter ke dalam tumpukan salju. dia menggunakan syal hitam
yang melilit lehernya untuk menjaga dirinya tetap hangat.
dalam kehangatan kecil ini, dia berjalan menuju villa tersebut. jalanan
yang gelap menjadi terang karena lentera yang dia tegakkan dengan tangan
kirinya. akhirnya, setelah sekitar sepuluh menit dia tiba, yang dia
lihat hanya villa gelap tak berpenghuni. dia duduk di tangga depan villa
itu.
mungkin aku datang terlalu cepat....
dia terduduk. meletakkan lenteranya di sampingnya menjaganya agar tetap
hangat dari salju yang dapat membekukan tubuhmu kapan saja. Michelle
duduk sambil meniupkan udara hangat dari mulutnya ke kedua telapak
angannya yang terbuka. sekitae sepuluh sampai limabelas menit dia
menunggu. tak seorangpun datang. dia memutuskan untuk pulang. sampai
akhirnya dia melihat bayang bayang tiga orang yang dikenalnya. sekejap,
dia mengambil lentera di sampingnya, sambil menegakkannya lurus kedepan
tiga bayangan itu.
"Nichole ! syukurlah, aku kira kalian takkan datang." dia
tersenyum pada ketiga orang yang wajahnya sudah nampak jelas karena
lenteranya.
"Hei, kemana semua orang ? disini kan acaranya ?" Michelle menanyakan ketiga orang gadis tadi.
"Memang.. tempatnya disini.. tapi bukan untuk pesta sebelum
natal..." Nichole berbisik sambil menodongkan sebuah pistol ke arah
Michelle. Tanpa ragu0ragu lagi, Nichole langsung menarik pelatuknya.
dengan jarak setengah meter itu, anak kecil pun bisa menembak dengan
tepat.
DUARRR !!!!
Salju masih turun. angin masih berhembus.. namun tidak untuk nafas
Michelle. dia terjatuh bersimbah darah dikepalanya. mata biru nya masih
terbuka... dengan tatapan kosong dengan kepala yang menghadap kesamping.
darah segar masih mengucur dari kepalanya yang berlubang akibat
tembakan dari pistol tadi.
"dia, berbaring... tapi bukan tidur sayang..."
kata-kata itu cocok untuk menggambarkan kondisi Michelle sekarang.
"Bukanlah hal yang sulit untuk membunuhmu. yah, karena kau juga bukan
orang yang terlalu penting untuk tetap hidup. dan kau juga akan
menghalangi jalanku. kali ini, tak akan ada lagi yang bisa
menghalangiku. ayo, kita pergi. mungkin sebentar lagi serigala akan
menjemputnya."
Nichole berlalu dengan dua gadis lain di belakangnya. kedua gadis tadi
hanya diam. mereka sebenarnya shock. tapi, Nichole sudah memberitahu
mereka untuk diam. karena akan sangat berbahaya jika suara dua orang
gadis terdengar di villa yang bertempat di kaki gunung ini. mereka hanya
diam dan mengikuti Nichole dari belakang. sebenarnya mereka tidak ingin
ikut, tapi mereka hanya bisa diam agar tidak bernasib sama.
sosok mereka bertiga tak lagi nampak. menjauh dari jasad Michelle yang
terbaring sejak beberapa menit yang lalu. suara Michelle tak lagi
terdengar. lentera yang terjatuh tadi mati tertimbun salju.
"kenapa ? apa salahku ? penghalang ? kenapa ? kenapa ?" Michelle
tidak terima, masih banyak peranyaan dan dendam yang ia simpan. dia
ingin terus di villa ini sampai dia mendapatkan semua jawaban atas semua
pertanyaannya.dia menunggu, selalu menunggu di tempat itu.
beberapa hari setelah itu, mayat Michelle yang tertimbun, ditemukan oleh
Anjing salah seorang peternak domba didekat situ. polisis mencari siapa
pelakunya, tapi tak kunjung menemukan titik terang. sejak saat itu,
warga sekitar takut akan villa itu. mendengar suara seorang anak
memangis, dan mendengar nyanyian dan pantulan suara kaki di lantai villa
tersebut. Michelle kecil ternyata masih menunggu....
sampai suatu hari, tamu yang ditunggu Michelle kecil pun datang.
_to be continued_
Tidak ada komentar:
Posting Komentar